‘ANJING, GOBLOG, BANGSAT, BAJINGAN’ BUKAN MELULU SOAL KETIDAKSOPANAN
Bagaimana perasaanmu ketika dipanggil dengan sebutan binatang ?
Seperti ‘anjing’ misalnya ?
Mungkin sebagian dari kita atau bahkan mayoritas dari kita akan terlihat sangat marah ketika mendengar ucapan tersebut. Karena sensitifitas tiap orang cenderung berbeda. Selain itu juga pergaulan yang tidak terbiasa dengan sebutan-sebutan semacam itu mungkin akan merasa sangat tidak nyaman ketika mendapati orang lain memanggilnya dengan sebutan tersebut.
Memang terkadang orangtua mendidik kita untuk tidak mengucapkan kata-kata buruk, karena sejatinya penilaian diri selain dari penampilan juga dari lisannya. Namun pergaulan tidak dapat dipungkiri. Tidak semuanya orang-orang disekitar kita adalah orang baik, tidak semuanya orang-orang disekitar kita berlatar belakang dari keluarga yang berpendidikan. Banyak disekeliling kita yang bahkan dekat dengan kita memiliki latar belakang lebih buruk dari kita, sehingga terlihat dari segala ucapan yang dilontarkannya berbunyi kasar. Yang pada akhirnya dapat memengaruhi kita untuk mengikutinya.
Namun kembali lagi, seluruhnya tidak dapat dipukul rata bahwa seseorang yang mengatakan perkataan kotor adalah orang-orang yang berkepribadian buruk. Dosen saya yang tergolong orang berpendidikan mengakui sering menyebut temannya dengan sebutan ‘bajingan’ karena memang saking akrab dan dekatnya, dan tidak ada rasa saling tersinggung dari keduanya.
Pun juga untuk kata yang tergolong sekawan dengan kata ‘anjing’, ketika seseorang sudah sering menggunakan kata-kata kotor tersebut maka rasanya tidak akan lagi terdengar kotor, karena sejatinya kata-kata tersebut sudah menjadi bahasa ibuan atau bahasa sehari-hari yang sering dilontarkan oleh anak muda. Jadi kata-kata tersebut tidak selamanya bermakna ketidaksopanan melainkan berubah menjadi bahasa persahabatan ketika keduanya yang saling mengucap dan mendengar sama-sama saling terbiasa menggunakan kata-kata tersebut.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar