FILOSOFI JAWA: AJINING DIRI SAKA LATHI, AJINING RAGA SAKA BUSANA
Filosofi kehidupan Jawa memang sangat terkenal dibandingkan dengan suku-suku lainnya. Hal ini disebabkan karena kebudayaan Jawa masih sangat dilestarikan hingga kini. Filosofi-filosofi Jawa ini banyak dikenalkan melalui kisah pewayangan,serta tausiah Jawa.
Pada dasarnya kutipan-kutipan bahasa Jawa memang tidak menyimpang jauh dari ajaran Islam. Oleh sebabnya tausiah yang sering dibawakan dengan bahasa Jawa sering mengangkat kutipan-kutipan sesepuh Jawa tersebut.
Contohnya. "Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana" artinya "kehormatan diri dapat dinilai dari lidah, dan kehormatan raga dapat dinilai dari pakaian yang dikenakan".
Benar adanya. Dalam kehidupan seseorang dapat dikatakan baik ketika orang tersebut selalu menjaga lisannya. Dan dapat dikatakan berwibawa ketika orang tersebut selalu menjaga penampilannya.
Penilaian buruk pun akan muncul ketika seseorang tidak menjaga lisan, seperti halnya ketika seseorang sering berkata kasar maka akan diberi penilaian buruk sesuai dengan apa yang sering dia katakan. Begitu pula dengan seseorang yang tidak menjaga penampilannya atau berpenampilan sembarangan maka akan diberi penilaian buruk. Seperti halnya ketika dalam acara formal kedapatan seseorang menggunakan baju yang yang tidak sopan (sexy) maka sudah pasti akan mengundang perbincangan buruk di sekelilingnya.
Dalam Islam pun juga diajarkan bahwasanya dalam berbicara memang harus selalu berhati-hati agar tidak melukai oerasaan lawan bicaranya, pun juga dalam berpakaian harus sopan agar dihargai oleh orang-orang disekitarnya.
Oleh sebab itu, berpegang teguhlah pada petuah-petuah sesepuh kita. Walaupun sesepuh kita terlalu banyak berbicara soal mitos belum tentu semua hal yang dikatakannya buruk. Kita bisa melihat sisi positifnya dari filosofi kehidupan yang selalu dijunjung tinggi olehnya.
Dapat dipastikan. Ketika kita benar-benar menghargai petuah sesepuh kita maka hiduo akan terasa damai sejahtera

Tidak ada komentar:
Posting Komentar