HAHA-HIHI KEMUNAFIKAN TENAGA PENDIDIK
Pendidik adalah sosok yang dituntut memiliki kreatifitas ketika mengajar, agar dapat mencuri perhatian seluruh muridnya untuk memerhatikan setiap kata yang ia ucapkan.
Lebih-lebih untuk jenjang yang lebih tinggi. Seorang pendidik di jenjang yang lebih tinggi memang memiliki risiko dan tanggung jawab lebih besar karena seluruh peserta didik dihadapannya sudah dapat berpikir kritis.
Tak jarang pendidik pada jenjang lebih tinggi ini lebih memilih metode pembelajaran ceramah pada peserta didiknya, melenceng dari itu pendidik memilih metode diskusi agar peserta didiknya dapat bertukar pikiran dengan teman lainnya.
Ceramah menjadi pilihan utama bagi pendidik jenjang tinggi karena metode ini dapat dimungkinkan untuk pendidik melakukan stand up didalamnya. Ya. Karakteristik peserta didik tingkat tinggi memang membenci penjelasan materi dengan ceramah, namun berbeda ketika ceramah itu dimodifikasi dengan sedikit candaan dari pendidiknya namun candaan tersebut masih berada dalam topik pembelajaran yang sedang dibahas.
Hal ini dilakukan sebagian pendidik sebagai jembatan penyampai ilmu. Ketika materi yang disampaikan dengan sedikit canda dapat diterima peserta didik, diharap hal ini akan terus menerus melekat dalam memori jangka panjang peserta didik. Sehingga ketika pendidik melakukan apersepsi dalam pembelajarannya, mudah saja bagi siswa untuk mengingat materi tersebut.
Tak banyak memang pendidik yang memiliki selera humor tinggi dalam penyampaian materi. Karena memang prioritas pendidik bukanlah untuk difavoritkan peserta didiknya melainkan dapat menyampaikan segala materi yang sudah ditetapkan.
Namun tak jarang sering kita jumpai lelucon pendidik ini sifatnya munafik. Pendidik terlalu memaksakan diri untuk tampil lucu dalam penyampaiannya namun lelucon yang dibawakannya adalah sebuah kebohongan besar yang sangat diketahui peserta didiknya. Walaupun lelucon tersebut berhasil membuat tawa seluruh peserta didiknya. Seperti halnya saat menyampaikan materi astronomi, pendidik menyampaikan "namanya bintang beruang, sebelum ada GPS bintang ini digunakan sebagai petunjuk arah kapal berlayar. Tapi setelah saya dekati bintang itu bentuknya bukan beruang melainkan bunglon". Ya kalimat tersebut menghasilkan gelak tawa namun bohong. Walaupun peserta didik tertawa, mereka sebenarnya juga paham bahwa gurunya telah berbohong karena tidak mungkin gurunya mendekati bintang, ke bulan yang letaknya lebih dekat dari bumi saja belum pernah apalagi ke bulan ?
Hal demikianlah yang harus kita hindari sebagai calon pendidik. Boleh-boleh saja mengundang gelak tawa dalam penyampaian materi namun sifatnya harus real jangan sekedar omong kosong yang justru merugikan diri sendiri karena menyebabkan dosa dari kebohongan yang diucapkannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar