Senin, 10 Desember 2018

DISANGKA BODOH, TERNYATA ANAK INI BERKEBUTUHAN KHUSUS

DISANGKA BODOH, TERNYATA ANAK INI BERKEBUTUHAN KHUSUS


Tidak mudah menjadi seorang guru. Dalam hal mengajar guru dituntut dapat memahami seluruh materi pelajaran agar ketika siswanya bertanya guru dapat memberikan penjelasan.

Selain itu guru juga dituntut untuk dapat memahami karakteristik siswa, baik karakteristik siswa tentang kelemahan/kelebihannya dalam ranah kognitif.

Ketika mendapati siswa yang memiliki kecerdasan di tingkat lebih tinggi dari anak-anak biasanya maka guru harus mampu memberikan penanganan yang sesuai dengannya (tentu harus dibedakan dengan anak pada umumnya), begitu pula ketika guru mendapati siswa yang kecerdasannya dibawah anak-anak biasanya maka guru juga harus mampu memberikan penanganan ekstra serta mencari penyebab mengapa siswa ini jauh tertinggal dengan teman-temannya.

Walau begitu, namun masih tetap saja ada guru yang menelantarkan siswa yang memiliki kemampuan dibawah teman-temannya. Bahkan lebih parahnya lagi memberikan stigma negatif (dasar bodoh) pada anak tersebut.

Seperti pada film India yang dibintangi oleh Amir Khan berjudul Taare Zameen Par. Mengangkat sebuah cerita tentang anak yang sering mendapat hukuman disekolahnya.

Hari-hari disekolah, anak ini menjadi langganan hukuman oleh para guru, lantaran kegagalannya dalam memahami apa yang dijelaskan oleh guru. Baik dalam hal menjawab soal maupun menyalin ulang tulisan guru. Selain itu, anak ini juga selalu mendapatkan kata-kata buruk dari mulut gurunya seperti kata-kata 'dasar kamu bodoh'.

Untungnya ada salah seorang guru yang peduli pada anak ini, karena penasaran setiap kali melihat si anak ini sering mendapat hukuman, guru ini menelusuri apa penyebab siswa ini sering menerima hukuman. Setelah ditelusuri ternyata anak ini berkebutuhan khusus. Siswa ini mengalami gangguan disleksia yang mana ia tidak mampu dalam hal menguasai fonem sehingga berpengaruh kepada tulisan dia.

Ketika diminta menyalin tulisan anak ini merasa kesulitan karena hurufnya menari-nari. Ia tak mampu membedakan huruf yang hampir sama seperti 'p' dengan 'q', 's' dengan 'z', 'b' dengan 'd', 'u'/'v' dengan 'n'. Terkadang ia menyalin tulisan dengan terbalik-balik, seperti 'was' menjadi 'saw'. Terkadang juga tulisan yang disalin ada sebagian huruf yang hilang. Anak merasa pusing ketika dihadapkan dengan tulisan-tulisan, ia mengaku otaknya terasa sakit ketika melihat banyak tulisan berjajar.

Namun ketahuilah, anak disleksia bukanlah anak bodoh. Anak disleksia hanya butuh penanganan khusus agar dirinya mampu  belajar dengan baik. Anak disleksia memiliki kemampuan berpikir sama seperti anak normal pada umumnya, hanya saja ia butuh bimbingan khusus.

Jika ada seseorang yang berkata 'bodoh' pada anak disleksia, maka yang mengatakan itulah yang sebenarnya bodoh. Karena dia hanya bisa berucap tanpa memberikan sebuah solusi.

Oleh sebabnya, kalian yang membaca artikel ini entah itu orang tua ataupun seorang guru, bersabarlah ketika kalian mendapati seorang anak yang sangat lamban dalam hal menulis ataupun membaca. Jangan lantas mengatakan bodoh karena anak ini sangat lama menerima penjelasan. Kenali penyebabnya, bisa jadi dia anak disleksia yang membutuhkan penanganan khusus dalam hal belajar. Karena sejatinya seorang tutor (guru/orangtua) dituntut untuk memahami karakter anak/buah hati, bukan memperburuk keadaan .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar