Selasa, 25 September 2018

STIGMA POSITIF

Menyambung artikel sebelumnya yang membahas mengenai dampak buruk stigma negatif, maka pada artikel ini saya akan membahas kebalikan dari hal tersebut. Ya. Stigma positif. Stigma positif adalah suatu perkataan baik yang orangtua katakan pada anak dengan maksud memberikan motivasi pada anak.

Contoh stigma positif yaitu seperti ‘anak pintar’, ‘anak rajin’, dan lain sebagainya. Cara kerja stigma positif ini tidak berbeda dengan stigma negatif. Ketika orang tua men-stigma positif pada anaknya maka stigma-an tersebut akan masuk ke dalam alam bawah sadarnya yang mana anak akan merasa bahwa dirinya seperti yang dikatakan oleh orang tuanya.

Seperti halnya ketika anak merasa tidak mampu dalam memahami sesuatu maka dia akan teringat akan stigma orang tuanya, ‘Kata Bunda aku anak pintar, aku harus semangat memahami pelajaran ini biar aku bisa jadi anak pintar’.
Sama halnya ketika anak distigma ‘rajin’ oleh orang tua, maka anak akan mengatakan hal itu pada dirinya sendiri setiap hari, ‘kata Ibu aku kan anak rajin, jadi aku harus belajar giat agar dapat nilai bagus’.

Sudah paham betapa dahsyatnya dampak stigma positif ? Tidak perlu marah-marah menyuruh anak belajar, tidak perlu marah-marah menyuruh anak merapihkan barang-barangnya. Hanya dengan stigma positif maka anak akan dapat memahami apa kemauan orang tua atas dirinya.
Oleh sebabnya, setelah membaca artikel ini diharapkan orang tua dapat lebih memosisikan diri sebagai orang tua yang baik yang selalu memberikan stigma positif pada anak.

STIGMA NEGATIF

Seberapa sering anda mendengar orangtua men-stigma buruk soal anak ? Atau bahkan hal ini terjadi pada diri anda sendiri yang selalu di stigma negatif oleh orang tua anda ?

Tahukah anda stigma negatif akan membuat anak menjadi berperilaku negatif sesuai dengan apa yang diucapkan oleh orang tuanya. Seperti contohnya kesulitan anak dalam memahami sesuatu yang diartikan lain oleh orang tua kemudian orang tua mengatakan pada anak tersebut bahwa ‘bodoh kamu! Begini saja tidak paham!’. Dengan cepat alam bawah sadar anak ini akan menerima stigma-an tersebut kemudian menyimpannya kedalam memori jangka panjang. Yang mana anak suatu saat juga akan men-stigma sendiri bahwa dirinya bodoh. Seperti halnya saat melakukan ulangan dan anak merasa tidak mampu mengerjakan, maka saat itulah stigma akan dirinya muncul, ‘benar kata Ibu, aku ini bodoh’.

Sudah tahu kan seberapa buruk dampak stigma negatif pada anak ? Yang orang tua anggap bahwa stigma negatif akan memberikan motivasi pada anak itu hanya omong kosong. Justru sebaliknya, stigma negatif akan melunturkan semangat anak, dan membuat anak merasa tidak berguna dalam menjalani hidup.

Oleh sebabnya dalam artikel ini saya akan berikan saran terbaik pada orangtua. Bahwasanya anak adalah cerminan dari sikap orang tua. Apapun yang dilakukan anak berarti itu cerminan dari orangtua. Kalau anak nakal, lihat diri anda sebagai orangtua. Apa yang telah anda perbuat pada anak anda sampai dia bisa memiliki pribadi nakal. Kalau anak anda bodoh, lihat diri anda sebagai orang tua. Apa yang telah anda perbuat pada anak andaa sampai dia sulit memahami sesuatu. Saya yakin pati karena anda kurang menanggapi kekritisan pola pikir anak. Ketika anak sibuk bertanya a, b, c, anda hanya menganggap hal itu sepele sehingga jawaban yang anda berikan pun tidak sesuai dengan apa yang ditanyakan. Ingat! Semua itu cerminan dari sikap orang tua terhadap anak. Maka jangan pernah salahkan anak apabila dia melakukan kesalahan. Bercerminlah terlebih dahulu sebagai orang tua, apakah anda sudah menjadi orang tua yang baik.


TEACHERPRENEUR

Banyak hal yang bisa dilakukan menjadi seorang guru. Bukan semata-mata profesi guru mengajar dikelas maka dia hanya bisa menjadi seorang mengajar saja. NO!

Guru bisa juga dikatakan sebagai seorang wirausaha. Kita tahu bahwa sebenarnya peluang usaha yang bisa dijalankan dalam lingkungan sekolah itu sangat banyak. Namun sayangnya tak banyak guru dapat meraba hal ini.

Contohnya. Selain menjadi seorang pengajar, guru dapat berjualan disekolahan saat jam istirahat. Hal ini akan membuahkan hasil, karena sekolahan adalah tempat yang paling strategis untuk berjualan. Selain itu berdasarkan segala pemahamannya mengenai dunia belajar mengajar, guru dapat menuangkan segala ide serta gagasannya kedalam sebuah karya tulis yang dapat diterbitkan. Dari hasil terbitan karyanya tersebut dapat dijadikan acuan bagi guru lain yang membutuhkannya. Dapat pula guru mendirikan sebuah bimbingan belajar dirumah yang menggunakan model pembelajaran berbeda dengan yang diterapkan disekolah, sehingga menarik perhatian siswa untuk belajar bersama dirumah.

Buka kacamata pendidikan anda. Ganti kacamata pendidikan anda dengan kacamata wirausaha. Banyak sekali peluang bisnis yang bisa dibangun dalam lingkungan sekolahan. jangan hanya menjadi seorang pendidik yang monoton saja. Buka jalan lain untuk menambah tabungan anda. Karena sejatinya pengalaman adalah guru terbaik. Jadi kalau guru tidak mau menciptakan hal-hal baru untuk mendapatkan pengalaman maka dapat dipastikan anda dikatakan kurang baik dalam menjadi seorang guru.

SEMPITNYA DEFINISI PANDAI
        Tak jarang dari kita tahu ketika seorang guru memberikan sebuah pertanyaan didalam kelas dan lebih pro terhadap siswa yang aktif. Setelahnya mendefinisikan bahwa siswa aktif tersebut adalah siswa yang pandai, karena apapun pertanyaan yang diberikan mudah terwajab.

Hal demikian terdengar tidak adil karena secara tidak langsung guru menelantarkan siswa lain yang cenderung pasif dan lebih subjektif memilih siswa aktif tersebut yang dianggapnya pintar.

Pada dasarnya guru harus memahami kompetensi pedagogik dengan benar. Dalam kompetensi pedagogik guru dapat memahami segala macam aspek karakteristik peserta didik. Yang mana definisi pandai bukan hanya dapat diungkapkan pada siswa yang aktif dikelas. Tidak ada siswa yang pandai dalam berbagai macam mata pelajaran. Pasti siswa hanya pandai dalam satu atau dua mata pelajaran saja. Oleh sebabnya guru dilarang keras memberikan stigma bahwa siswa yang pendiam di kelas adalah siswa kurang berprestasi. Karena setiap siswa memilihi kelemahan dan kelebihan masing-masing.

Boleh jadi siswa yang pendiam dikelas sangat aktif diluar kelas (non akademik). Begitupun sebaliknya, boleh jadi siswa yang aktif dikelas menjadi sangat introvert saat dberada diluar kelas.

Tidah mudah memang menjadi seorang pendidik. Dimana ia tidak boleh terlalu subjektif. Dan harus selalu menepati posisi netral. Maka dari itu terus pelajari ilmu-ilmu tentang mendidik agar kamu (seorang calon pendidik) tidak salah langkah dalam bertindak.

NEGERI vs. SWASTA

Pernahkah anda memerhatikan seberapa jauh perbandingan kualitas sekolah negeri dengan sekolah swasta ?

Sebagai seorang calon pendidik pernahkah anda menerawang suatu saat dimana anda akan bekerja ?

Saya percaya tentu siapapun memikirkan hal tersebut. Ketika seseorang benar-benar menekuni bidang perkuliahannya maka tidak akan ada lagi yang menanamkan sikap seperti air (terus mengalir mengikuti arus). Hal demikian mulai terpikirkan oleh para calon pendidik ketika mereka mulai mendapat tugas dari dosen mereka untuk kegiatan observasi lapangan yang kadang-kala mengharuskan mereka untuk terjun ke dua sekolah berstatus berbeda tersebut.

Tak jarang dari mereka berkeinginan untuk dapat diterima kerja di sekolah swasta karena selain perhatian (honor) yang diberikan kepada guru amat besar dibandingkan sekolah negeri, warga awam disekitar sekolah juga mengecap bahwa guru yang mengajar di sekolah swasta adalah guru cerdas. Hal ini dapat terungkap karena memang kualitas anak yang terlahir dari pendidikan swasta jauh lebih unggul dibandingkan sekolah negeri. Selain akademik, attitude mereka juga sangat baik.

Namun, pernahkah kalian memikirkan sesuatu mengenai letak kepantasan atas kualitas kemampuan diri anda ? Apakah anda pantas mengajar di swasta atau negeri ?

Apabila anda pernahmemikirkan hal demikian berarti anda telah memahami sejauh mana kriteria guru yang diharapkan oleh kepala satuan pendidikan tiap-tiap lembaga tersebut.

Sedikit berbagi infomasi sesuai pengetahuan saya, bahwasanya menjadi guru swasta itu tidak mudah karena mereka benar-benar menggantikan sosok orang tua murid didalam sekolah. Hal ini dapat dibuktikan melalui jam belajar mereka yang relatif lama serta kedekatan orang tua murid dengan wali murid yang mana apabila terjadi suatu hal maka orang tua murid langsung nenanyakan kepada wali kelas atas kejadian tersebut. Sehingga menjadi guru di swasta harus siap mental double karena selain menghadapi murid, orang tua murid juga harus dihadapi.

Sedangkan guru negeri saya rasa tidak seluruhnya seperti itu. Guru negeri cenderung menikmati masa pengajarannya sebagai sebuah profesi bukan hobi. Jadi kebanyakan dari guru negeri hanya sebatas mengajar saja tanpa memedulikan siswanya paham atau tidak, yang penting beliau telah mengerjakan tugasnya sebagai seorang tutor.

Sudah paham bukan dimana letak perbedaannya ?

Dari penjelasan tersebut dapat kalian ketahui dimana letak kepantasan kalian. Tengok sejauh mana kemampuan serta kesiapan kalian.

CINTAI OTAKMU, B'LAJAR T'RATUR TIAP HARI!

CINTAI OTAKMU... B’LAJAR T’RATUR TIAP HARI!

Menyambung postingan yang berjudul ‘jadwal amburadul’, tentu kalian paham bagaimana maksud dari judul artikel pada halaman ini. Karena memang antara dua judul tersebut saling berkaitan.

Apabila dalam judul ‘jadwal amburadul’ membahas sesuatu mengenai tidak tertatanya sebuah jadwal belajar seorang pelajar/mahasiswa sehingga memungkinkan mereka untuk mengerjakan mepet waktu death-line. Maka pada postingan ini seperti halnya nasihat untuk kalian yang merasa terpanggil namanya dalam postingan ‘jadwal amburadul’ tersebut.

Kawan. Tidak baik menunda-nunda tugas dan menyelesaikannya pada  hari dimana sangat mepet sekali dengan death-line. Karena hal tersebut dapat berpengaruh pada kesehatan fisikmu. Dimana kesehatanmu akan terganggu ketika jam istirahatmu tersita untuk mengerjakan tugas. Selain itu juga perhatikan daya otakmu. Otak tidak dapat diforsir dalam sekali waktu untuk memikirkan segala tugas yang menumpuk. Otak seperti halnya elektronik yang digunakan secara terus-menerus tanpa henti, maka akan mati total. Bedanya jika otak manusia lemah maka yang menonjol adalah kondisi fisiknya yang tampak lemah. Karena ketika otak tidak mendapat jatah istirahat maka akan memerintah seluruh anggota tubuh untuk berhenti melakukan tugasnya dengan cara melemahkan pekerjaannya.

Oleh sebabnya belajarlah secara teratur. Kerjakan seluruh tugas dengan sedikit demi sedikit (sistem nyicil). Karena dengan sistem nyicil ini maka seluruhnya tidak akan terasa berat. sehingga otakmu akan tetap dalam kondisi baik dan tubuhmu akan terus fit karena mendapatkan jatah istirahat yang cukup.

Karenanya, cintai ususmu... B’lajar t’ratur tiap hari!

PANGGILAN ALLAH YANG DIABAIKAN

PANGGILAN ALLAH YANG DIABAIKAN

Apa yang sering guru kita katakan ketika mendengar suara adzan?

“Segera-kan-lah nak. Jangan ditunda-tunda. Karena menunda sesuatu itu apabila dipelihara akan semakin buruk akibatnya”.
Menyinggung hal tersebut saya merasa ada kejanggalan. Apakah kalian tahu apa kejanggalan itu ?

Kejanggalannya yaitu terletak pada penataan jam pelajaran di setiap sekolah/kampus. Apa yang dikatakan oleh guru mengenai ‘penyegeraan untuk menunaikan sholat’ ini bertolak belakang dengan fakta di dunia pendidikan. Dimana masih adanya sekolah/kampus yang memberikan jam istirahat siang tepat pada pukul setengah satu atau bahkan pukul satu siang. Sehingga ketika adzan dzuhur berkumandang, sebagai citra penunjuk rasa partisipan tersebut seluruh anggota kelas hanya bersikap ‘diam’ seolah menghormati panggilan adzan tersebut. Namun yang terjadi demikian adalah setelah adzan selesai suasana kelas kembali melaksanakan proses belajar mengajar. Dari fenomena tersebut sudah dapat dimengerti pada titik mana perkataan guru yang bertolak belakang dengan dunia pendidikan, bukan ? Mereka tidak menyegerakan panggilan adzan.

Ya. Guru tetap melanjutkan pembelajaran tanpa mengakhirinya dan memerintah siswa-siswanya untuk sholat. Tak jarang ketika ada siswa yang meminta izin pada guru untuk melaksanakan ibadah sholat dzuhur, guru menjawab ‘nanggung. Sebentar lagi ya’. Miris bukan ? Hal semacam ini terjadi di Indonesia yang notabene merupakan negara beragama muslim terbesar di dunia.

Pernah dengar istilah ‘di gugu dan di tiru’ ? Istilah tersebut merupakan kiasan yang seolah-olah memberikan angkronim dari kata GURU. Dari penjelasan singkat itu dapat kita pahami bahwa apapun yang dikatakan oleh guru maka akan diikuti oleh muridnya. Maka apabila anda seorang guru yang gemar menasihati murid namun diri anda sendiri tidak melakukan nasihat tersebut, lebih baik diam. Karena apabila nasihat anda hanya sebatas omong kosong belakang maka hal tersebut akan merugikan diri anda sendiri ketika mendapati murid anda kritis dalam mengomentasi nasihat anda yang tidak sesuai dengan tindakan tersebut.

JADWAL AMBURADUL

JADWAL AMBURADUL

Amburadul. Sebuah kata yang digunakan untuk mendefinisikan sesuatu yang nampak acak-acakan, sesuatu yang nampak tak tertata, sesuatu yang nampak berantakan, dan lain sebagainya.

Sesuatu yang dapat dinilai acak-acakan, tak tertata, bahkan berantakan bukan hanya sesuatu yang dapat dilihat secara kasat mata. Melainkan sesuatu yang tidak dapat diraba pun bisa dikatakan acak-acakan. Yang jelas sesuatu bisa dikatakan amburadul apabila sesuatu tersebut tidak terstruktur keberadaannya.

Sama halnya dengan buku-buku yang bertebaran dikasur, apabila ditata dirak buku maka akan rapih, namun apabila menatanya asal dan tidak sesuai tinggi buku satu dengan tinggi buku yang lain maka hal tersebut masih dikatakan amburadul.  Sesuatu lain yang dapat dikatakan ambradul adalah jadwal belajar. Bukan semacam jadwal belajar pada kalender akademik saja, melainkan jadwal belajar setiap malam yang rutin. Mayoritas atau bahkan semua pelajar di Indonesia amburadul dalam menata jadwal belajar mereka. Hal ini terbukti dari mereka yang tidak siap ketika diminta untuk mengumpulkan tugas. Atau bahkan mereka yang sibuk mencari jawaban atas tugas-tugasnya menjelang death-line

Kebiasaan ini memang sangat sulit untuk dimusnahkan dari diri para pelajar/mahasiswa, karena pada dasarnya kebiasaan menunda-nunda tugas ini memang sudah tertanam sejak dulu. Menurut analisa saya yang juga selalu menunda-nunda tugas, hal ini terjadi karena memang kebanyakan guru ketika memberi pekerjaan rumah (PR) namun tidak pernah mengoreksinya. Jadi kebanyakan siswa menganggap acuh pada PR yang diberikan.

Solusi terbaik untuk para guru ketika memberi tugas seharusnya dengan memberikan tugas yang berupa berorientasi pada mata pelajaran selanjutnya yang belum dibahas oleh guru. Sehingga memungkinkan peserta didik untuk membaca materi selanjutnya dan berusaha untuk memahami. Sehingga pemberian PR bukan lagi sebuah evaluasi melainkan sebuah orientasi pembelajaran. Melalui hal ini dapat dimungkinkan lebih efektifnya proses pembelajaran pertemuan yang akan datang. Karena guru hanya akan menerangkan sesuatu yang masih dianggap bingung oleh siswa.

Kembali pada masalah utama mengenai amburadul-nya jadwal belajar. Apabila kalian merasa belajar itu sebuah sesuatu yang sangat penting maka biasakanlah pada diri anda untuk terus belajar dan mengerjakan tugas dengan sistem menyicil, bukan mengerjakan sekali waktu.

BENALU PENDIDIKAN

BENALU PENDIDIKAN

Apa yang anda pikirkan ketika pertama kali membaca judul artikel ini ?

Sempat bertanya-tanya kah anda mengapa kata ‘benalu’ disandingkan dengan kata ‘pendidikan’ ?

Apa yang anda tahu soal benalu ? Ya. Benalu ada lah tumbuhan parasit. Dimana tumbuhan ini hidup dan tumbuh pada batang tumbuhan lain. Istilah awamnya ‘menumpang hidup’. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap mengenai benalu kalian bisa mencarinya sendiri melalui berbagai referansi, karena disini saya tidak akan membahas tanaman benalu. Melainkan saya hanya mengambil kata ‘benalu’ sebagai kiasan dalam artikel saya.

Jadi sudah paham mengenai benalu, bukan ? Yang perlu di garis bawahi adalah istilah benalu yang “menumpang hidup”. Nah apabila kata benalu ini disandingkan dengan kata pendidikan maka istilah “benalu pendidikan” dapat diartikan sebagai numpang hidup dalam dunia pendidikan.

Sama halnya dengan simbiosis pada pohon mangga dan benalu. Dalam dunia pendidikan hal tersebut juga dapat terjadi. Sering kita dengar dari peserta teman-teman lain atau bahkan juga sering kita alami sendiri dimana ketika guru/dosen memberikan tugas kelompok kepada kita namun yang terjadi adalah sebaliknya. Embel-embel ‘tugas kelompok’ hanya sebagai status dimata guru/dosen saja, karena hasil akhir yang menunjukkan seluruh nama anggota kelompok lengakp tertulis dalam cover. Padahal pada kisah yang sebenarnya tidak seluruh anggota ikut serta dalam penyelesaian tugas tersebut, atau mungkin anggota tersebut hanya hadir sekedar hadir tanpa membantu. Inilah yang dinamakan ‘benalu pendidik’. Ia adalah mereka-mereka yang menumpang nama pada cover hasil laporan tanpa  menyumbangkan sedikit pun ide  untuk penyelesaian tugasnya.

Sedikit ku beri fakta mengenai kisah si benalu pendidik ini. Mereka menyukai tugas kelompok namun tidak pernah menghadiri kerja kelompok. Karena rasa sukanya hanya didasarkan pada sikap mereka yang gemar mengandalkan orang lain. Ketika dibuatkan chat group sebagai forum diskusi online mereka merengek untuk dimasukkan sebagai anggota grup, namun tidak menimbrung sedikit pun ketika diskusi online berlangsung. Fakta terakhir, mereka seperti dajjal, muncul dalam sekali waktu namun menggemparkan seluruh penghuni grup. Mengapa menggemparkan ? Karena mereka hanya muncul ketika teman penyusun makalah bertanya soal NIM. 

Untuk kalian, sahabat yang membaca artikel ini. Apabila kalian merasa terpanggil ke dalam julukan ‘benalu pendidik’ ini maka segera sadarkan diri. Belas kasihanilah orang tua kalian yang sudah bersusah payah mencari uang untuk biaya pendidikan kalian. Jangan asyik-asyikan menjadi benalu pada perjuangan orang lain. Hidupmu hanya sekali. Maka buat hidupmu berfaedah. Jangan merepotkan orang lain, karena orang lain saja juga punya kerepotan sendiri dalam menjalankan hidupnya.

Minggu, 23 September 2018

EGOENTRIS

EGOENTRIS


Egois tidak hanya diartikan sebagai sifat yang mementingkan diri sendiri/golongannya saja. Bisa juga dikatakan pada seseorang yang selalu menganggap bahwa dirinya-lah yang paling benar.

Pernah kah anda memiliki teman semacam itu ?

Yang menganggap dirinya selalu benar dan menyalahkan orang lain ?

Pahamilah! Bahwa teman anda tersebut egois. Karena ia melihat segala kebenaran dari sudut pandang dirinya saja, tanpa melihat dari sudut pandang lawan bicaranya.

Ataupun anda merasa bahwa sifat ini terjadi pada diri anda ?

Bahwa setiap kali berbicara dengan lawan bicara, anda selalu ingin pendapat anda dihargai dan tidak memedulikan pendapat orang lain. Pahamilah! Anda termasuk orang yang dikategorikan memiliki sifat egoentris.

Kebanyakan dari orang yang memiliki sifat egois tidak akan memiliki banyak teman. Jika memiliki teman pun sangat diyakini bahwa teman tersebut hanyalah terpaksa dan kasihan. Seperti halnya ketika seorang egois itu mengajak berdebat kepada temannya, maka temannya hanya akan meng-iya kan apapun yang dikatakan si egois itu tanpa memberikan balasan argumen. Karena dirasa hanya akan membuang waktu berdebat dengan orang yang tidak ingin diberikan kritik/saran dalam pendapatnya tersebut. Seluruhnya akan terasa sia-sia apabila ditanggapi dan tanggapannya tidak diterima.

Namun tidak selamanya egois dipandang buruk. Karena ternyata setelah dipahami, egois ini memiliki sisi positif, seperti dibalik sikap egois seseorang terdapat sikap percaya diri. Percaya diri dalam mengungkapkan pendapat dan yakin bahwa pendapatnya benar. Walaupun terdapat nilai plus dari sikap egois ini bukan berarti sikap ini harus terus dipelihara. Karena pada dasarnya nilai negatifnya jauh lebih banyak, seperti diri sendiri tidak akan menerima masukan dari siapapun serta merugikan orang lain karena tidak dapat menyampaikan pendapatnya secara bebas.

Lantas bagaimana cara menghilangkan sikap egoentris ini ?

Pernahkah anda membaca pengetahuan tentang teori belajar ? Dimana tahap perkembangan anak yang diungkapkan oleh Piaget pada usia 0-2 tahun itu memiliki sifat egoentris yang sangat tinggi. Jadi tanamkan pada diri anda apabila anda memiliki sikap egois diusia yang cukup matang maka tidak lain anda adalah bocah berusia 2tahun seperti yang dikatakan oleh Piaget. Selain itu juga anda dapat menghilangkan sikap egois ini dengan cara mencoba tidak selalu menyangkal apapun yang dikatakan oleh lawan bicara anda, biasakan jangan melihat dari sudut pandang diri anda saja melainkan juga melihat dari sudut pandang lawan bicara. Karena bisa jadi pendapat dari lawan bicara anda lebih benar daripada pendapat anda.

KALAU TIDAK SESUAI BAGAIMANA ?

KALAU TIDAK SESUAI BAGAIMANA ?

Menyambung artikel sebelumnya. Banyak orang mengatakan bahwa, ‘Segala macam pekerjaan membutuhkan background organisasimu. Maka berorganisasilah!’. Mari kita analisis bersama. Apakah benar ketika mencari pekerjaan nanti background organisasi sangatlah dibutuhkan ?

Ya. Memang benar. Setiap orang ketika melamar pekerjaan dalam CV-nya selalu dicantumkan pengalaman berorganisasi. Berharap melalui pengalaman organisasinya tersebut dapat dengan mudah diterima kerja.

Namun pernahkah anda berpikir bahwa pekerjaan yang akan anda lamar sama sekali tidak ada keterkaitan dengan pengalaman organisasi yang telah anda lalui ? Dengan begitu masihkah berlaku pernyataan diatas yang mengatakan bahwa, ‘Segala macam pekerjaan membutuhkan background organisasimu. Maka berorganisasilah!’ ? Toh pada dasarnya ketika kamu mengikuti tes CPNS yang kamu lampirkan adalah ijazah kelulusan bukan sertifikat organisasi.

Sekali lagi organisasi memang sangat penting untuk mencari pengalaman. Namun jangan terlalu menomor satukan organisasi. Karena ada hal yang jauh lebih penting untuk kamu lakukan selain organisasi. Maka fokuskan dirimu pada hal yang lebih penting itu. Sebab  hal itulah yang nantinya akan memudahkan kamu dalam mendapatkan pekerjaan.

Organisasi tidak dilarang. Asalkan bisa memanajemen waktu dengan baik. Masih sama dibaratkan dengan foto dan bingkai seperti pada postingan sebelumnya. HRD tidak akan melihat bingkai kamu melainkan disertakan sebuah foto, tapi jika kamu hanya memiliki foto tanpa bingkai maka HRD akan berpikir untuk kedua kali dalam mempertahankan kamu. Karena melalui foto HRD masih bisa meraba-raba seberapa jauh kemampuan yang kamu punya. Lain halnya dengan bingkai saja tanpa foto, HRD tidak akan bisa melihat apapun.

Sabtu, 22 September 2018

ALIBI TENTANG ORGANISASI

ALIBI TENTANG ORGANISASI
Tak sedikit orang yang berkata bahwa ‘Kuliahmu akan sia-sia jika tidak diimbangi dengan organisasi’, bahkan dosen pun berkata demikian. Tidak hanya itu, ada pula yang berkata bahwa, ‘Segala macam pekerjaan membutuhkan background organisasimu. Maka berorganisasilah!’.

Apakah benar kuliah akan teramat sia-sia apabila tidak diimbangi dengan organisasi ?

Tidak juga. Justru menurut saya organisasilah yang membuat kuliah seakan sia-sia. Menghambat waktu dalam menyelesaikan segala tugas. Banyak fakta yang memberikan gambaran mengenai mahasiswa yang aktif berorganisasi dalam dunia perkuliahan, diantaranya lulus dengan durasi yang sangat lama, menembus 13 semester bahkan 14 semester. Kesempatan berkuliah ditumpas habis karena saking sayangnya dengan dunia organisasi.

Tak jarang kita jumpai dalam hal kerja kelompok. Mahasiswa aktif organisasi menjadikan organisasinya sebagai alibi dalam penyelesaian tugasnya. Mereka mengaku tidak sempat menyelesaikan tugas lantaran banyak hadir rapat organisasi, banyak mengerjakan proposal organisasi, dan lainnya. Mendadak menjadi orang sok sibuk dan bangga atas kesibukannya tersebut.

Lantas kalau tidak sanggup dan tidak punya cukup waktu untuk memanajemen seluruh tugas, kenapa masih bertahan dalam dunia organisasi ? Padahal tugas kuliah jauh lebih penting dibandingkan organisasi.

Ngakunya prihatin sama orangtua karena biaya kuliah mahal, tapi kenapa tugas kuliah terbengkalai ?

Katanya dalam berorganisasi dibina karakternya ? Lantas kenapa sikap masih sedemikian rupa ? Mengerjakan tugas masih mengandalkan teman sekelompok, padahal mereka tahu bahwa tugas itu jauh lebih penting.

Organisasi memang merupakan salah satu wadah untuk menanamkan karakter baik bagi para aktifisnya. Namun tidak untuk mereka yang menomor satukan orgasisasi dan menyampingkan hal yang lebih penting dari organisasi. Maka segera sadarlah! Kalau dirasa tidak mampu maka jangan paksakan. Sejatinya pengalaman tidak hanya didapat dari berorganisasi. Masih banyak cara lain untuk mendapatkan pengalaman tersebut.

Organisasi hanya pantas ditekuni bagi mereka yang pandai memanajemen waktunya,  dan menganggap bahwa organisasi bukanlah nomor satu dari segala kesibukannya. Ibarat bingkainya. Dalam dunia perkuliahan organisasi adalah bingkai dan prestasi serta keaktifan kuliahmu adalah fotonya. Jadi apakah berguna jika bingkaimu bagus tapi tak ada fotonya ? Maka harus imbang antara keduanya. Kalau tidak sanggup berorganisasi maka sekedar foto saja tidak masalah, karena foto sudah mewakili segala pengalaman yang dilalui.

INGATKAN PADA DIRIMU BAHWA KARMA ITU BENAR ADANYA

INGATKAN PADA DIRIMU BAHWA KARMA ITU BENAR ADANYA


Pada postingan sebelumnya telah kita bahas mengenai hal-hal positif seputar dosen. Menjadikan dosen sebagai panutan dalam hidupnya di masa mendatang. Namun apakah benar semua mahasiswa berpikir demikian ? Menjadikan dosen sebagai inspiratornya ?

Ada saja mahasiswa yang membenci dosennya karena memberikan tugas yang banyak bin rumit. Namanya juga bangku pendidikan. Tidak akan terlepas dari yang namanya kebencian dan kecintaan. Seperti halnya ketika jaman Sekolah Dasar, selalu ada guru yang menjadi favorit siswa-siswanya. Ada pula guru yang menjadi sosok kebencian siswa-siswanya, entah karena galak ataupun sering membebani siswanya dengan pekerjaan rumah (PR).

Tidak ada bedanya dalam dunia perkuliahan dengan jenjang Sekolah Dasar. Sifat kebencian memang tertanam dalam diri manusia secara alamiah. Oleh sebabnya tak jarang mahasiswa membenci dosennya lantaran memberikan tugas yang begitu rumit, sehingga butuh waktu yang panjang untuk menyelesaikannya. Namun percaya lah, dosen tidak akan membebani mahasiswanya dengan tugas melebihi kemampuannya. Toh juga tugas yang diberikan sistemnya berkelompok bukan individu.

Apabila sifat buruk ‘membenci dosen’ ini muncul dalam dirimu maka terapikanlah pada dirimu bahwa karna itu benar adanya. Akan ada saat kamu juga dibenci oleh muridmu apabila kamu membenci dosenmu. Berpandangan positiflah kepada dosen bahwa tugas yang beliau berikan itu semata-mata bukan hanya untuk membebankan diri mahasiswa saja, melainkan untuk mencarikan pengalaman pada mahasiswanya melalui tugas-tugas tersebut. Semua yang dosen perintahkan kepada mahasiswanya itu untuk kebaikan mahasiswanya.

DOSEN SEBAGAI PANUTAN

DOSEN SEBAGAI PANUTAN


Boleh jadi ketika masih kecil semua anak-anak menjadikan orangtua sebagai satu-satunya panutan dalam hidup mereka. Namun ketika sudah dewasa, dengan sendirinya mereka akan sadar bahwa tidak akan cukup jika hanya berpanutan pada orangtua nya saja, melainkan juga harus berpanutan pada seseorang yang sekiranya mampu menginspirasi hidupnya di masa mendatang. Sejatinya anak yang sudah mencapai keberhasilan dalam tumbuh kembangnya tidak akan lagi berpikir secara konkret, melainkan sudah dapat berpikir menggunakan logikanya.

Kuliah merupakan satu-satunya bangku pendidikan yang memperkenalkan kehidupan sebenarnya kepada peserta didik. Karena seluruhnya dilakukan tanpa ada bantuan dari orangtua. Bagaimana tidak ? Rata-rata mahasiswa merupakan warga perantauan yang rela hidup terpisah dari orangtua hanya demi mencapai langkah awal menuju cita-citanya.

Orangtua menjadi panutan ketika dirumah. Namun apakah akan terus menerus menjadi panutan saat sang anak sudah jarang bersamanya ? Tidak. Seperti halnya mahasiswa. Dalam dunia barunya mereka tidak lagi menjadikan orangtua sebagai panutannya karena keberadaannya yang terlampau jauh. Lebih-lebih ketika berbicara soal program studi yang sedang ditempuhnya untuk mencapai cita-cita, orang tua tidak akan paham betul mengenai segala bidang mata kuliahmu, sehingga tidak bisa dijadikan panutan untuk seterusnya.

Lantas siapa yang pantas menjadi panutan bagi para mahasiswa ini ?

Dosen. Ya. Setiap dosen selalu menginspirasi bagi seluruh mahasiswanya, karena pada dasarnya mereka jauh lebih berpengalaman dalam program studi yang diampunya dibandingkan dengan mahasiswanya. Setiap dosen memiliki karakter sendiri dalam menyampaikan pengajaran. Dengan  masing-masing cara ini  sebenarnya dosen sedang beraksi menjadi sosok inspirator bagi mahasiswanya.

Mahasiswa bebas memilih karakter dosen mana yang sesuai dengan dirinya untuk menjadi panutan di masa depan.Maka yakinkan pada diri kalian bahwa apapun yang dikatakan oleh dosen merupakan kejadian yang sebenar-benarnya terjadi, bukan hanya sekedar cerita fiktif belaka yang dijadikannya sebagai strategi pembelajaran. Walau terkadang kita mendengar pengalaman-pengalaman ambigu yang diceritakan oleh dosen, namun percayalah yang dosen lakukan semata-mata hanya ingin menginspirasi  mahasiswanya.

Maka jadikanlah dosen sebagai panutanmu dalam menjalani hidup. Karena mereka adalah satu-satunya memori berjalan yang akan mengarahkan kamu pada keadaanmu mendatang.

PELACUR AKADEMIK

PELACUR AKADEMIK


Istilah pelacur memang begitu hina saat tertangkap oleh indera pendengaran kita. Yang kita tahu dari lirik lagu Noah – Kupu-kupu Malam, dimana dalam lirik tersebut menggambarkan kehidupan pelacur yang berusaha menyambung nyawa dengan pekerjaan yang dilakoninya. Tidak ada pelacur yang miskin, semua pelacur hidup nyaman dalam ke-hina-an atas dirinya. Untuk mendapatkan kesejahteraan hidup mereka rela menghinakan dirinya. Begitulah kurang-lebih gambaran pelacur dalam pandangan setiap manusia.

Bertanya-tanya kah anda dengan judul ‘Pelacur Akademik’, mengapa dalam hal akademik disejajarkan dengan kata pelacur ?

Tentu ketika membaca paragraf kehidupan pelacur diatas anda akan paham bagaimana hal tersebut jika diibaratkan dengan pelacur akademik. Jika dalam lirik lagu kupu-kupu malam dikatakan bahwa yang pelacur ketahui pekerjaan yang mereka lakukan hanyalah untuk menyambung nyawa, maka yang diketahui oleh pelacur akademik juga sama, hanyalah untuk menyambung popularitas.

Apabila pelacur mendapatkan kesejahteraan hidup dengan rela menghinakan dirinya, maka yang dilakukan oleh pelacur akademik juga demikian. Pelacur akademik rela menghinakan nama baiknya demi mendapatkan kesejahteraan hidup atas hasil-hasil karya orang lain yang ia plagiatkan dengan namanya.

Ya, sudah paham bukan apa itu pelacur akademik ? Pelacur akademik adalah mereka yang gemar menyalin karya orang lain dan mempublikasikan ke khalayak ramai lalu mengakui bahwa karya tersebut adalah hasil pemikirannya sendiri. Semua itu mereka lakukan demi popularitas dan kesejahteraan untuk kehidupannya. Karena pada dasarnya honor menulis itu sangatlah tinggi. Oleh sebabnya seseorang yang telah melakukan plagiat karya orang lain ini demi kepentingan komersil ataupun lainnya disama rata kan dengan istilah pelacur. Karena dirinya rela meng-hinakan nama baiknya demi keuntungan dirinya sendiri.

Menyambung dari postingan sebelum-sebelumnya yang berjudul ‘Ke-alpa-an membaca’,  setiap orang harus paham bahwa untuk mendapatkan hasil karya berupa tulisan yang baik maka harus rajin membaca, mencari berbagai referensi untuk mengisi gudang bacaan kita. Karena karya yang bagus dan berbobot sudah pasti didasari oleh seberapa banyak buku yang telah kita baca.

Maka dari itu agar popularitasmu tidak diberi label ‘pelacur akademik’ giatlah membaca mulai dari sekarang. Perbanyak referensi bacaan agar seluruh karyamu berbobot, sehingga popularitasmu dikenal bukan sebagai plagiat melainkan atas kerja keras mu sendiri. Karena sesungguhnya tidak ada jalan tol menuju gerbang kesuksesan. Seluruhnya harus dilandasi dengan memandirian masing-masing individu.

Senin, 10 September 2018

DAMPAK KE-ALPA-AN MEMBACA

DAMPAK KE-ALPA-AN MEMBACA


Membaca merupakan sesuatu yang sangat menyebalkan bagi kaum mayoritas bangsa Indonesia. Pasalnya Indonesia sangat buruk sekali dalam hal konsistensi membaca. Namun dalam dunia perkuliahan kemalasan ini tidaklah lagi berguna. Membaca banyak referensi buku  menjadi kegiatan yang sangat wajib dilakukan oleh mahasiswa. Mau tidak mau mahasiswa harus memaksakan dirinya untuk membaca buku yang sesuai dengan apa yang diperlukannya.

Berhari-hari mahasiswa diminta untuk membuat karya tulis, baik artikel, makalah, laporan penelitian, dan sebagainya. Bayangkan saja, dengan ke-alpa-an membaca mana mungkin mahasiswa dapat menyelesaikan seluruh tugasnya ? Hanya sekedar plagiat karya orang saja tidak cukup apabila tanpa di baca. Seorang plagiat akademik yang profesional pun juga pasti akan membaca seluruh isi karya tulis orang yang akan diplagiatnya dan membandingkannya dengan karya tulis yang lainnya untuk mencari kesempurnaan.

Maka dari itu ke-alpa-an membaca ini sungguh-sungguh sangat harus dihilangkan, lebih-lebih pada diri seorang mahasiswa. Karena percuma saja mempunyai gelar kalau kegiatan sehari-hari terlepas dari membaca. Sama halnya dengan pensil yang terus digunakan tanpa harus diasah, otak juga semacamnya. Digunakan berpikir setiap hari kalau tidak di asah dengan membaca buku maka akan semakin  dangkal pula cara berpikirnya.

Oleh sebab itu mulailah belajar membaca dari hal-hal kecil yang kalian suka, yang berhubungan dengan jurusan kalian, dan yang bermanfaat bagi kalian. Sebab dampak dari ke-alpa-an membaca sangatlah buruk bagi generasi penerus bangsa.

BERTEMAN dengan ANAK BEASISWA, HARUSKAH ?

BERTEMAN dengan ANAK BEASISWA, HARUSKAH ?


Perguruan tinggi bukanlah sesuatu yang patut untuk dipermainkan. Apabila anda adalah seseorang yang tidak pernah mengerjakan PR dan masih sering membolos pelajaran untuk bermain ke kantin saat sekolah dulu, maka segera hilangkanlah kebiasaan buruk tersebut ketika kalian memasuki dunia perkuliahan.

Kuliah tidak se-bercanda itu, kawan. Saat sekolah kalian punya guru yang begitu baik dalam mengingatkan segala tugas, guru yang selalu membantu kalian ketika kesulitan memahami pelajaran, guru yang selalu menghubungi kalian ketika tak kunjung masuk sekolah. Sungguh masa-masa sekolah bagaikan surga di dunia pendidikan.

Semua kenyamanan di sekolah itu sungguh berbeda dengan dunia perkuliahan. Di dunia perkuliahan kalian punya dosen sebagai pengganti guru. Asal kalian tahu, dosen tak se baik guru. Dosen tak pernah mengingatkan kapan mahasiswanya harus menyelesaikan tugas, dosen hanya sedikit sekali dalam membantu mahasiswanya memahami pelajaran, pun juga dosen tidak pernah peduli terhadap absensi mahasiswanya. Kuliah sangat berbeda dengan Sekolah.

Maka dari itu segera sadarlah kalian yang merasa berleha-leha dalam segala tugas di sekolah. Nikmatilah kebaikan guru-guru kalian sebelum bertemu dosen yang tak sebaik guru. Karena dosen melatih seluruh mahasiswanya untuk mandiri, berbeda dengan guru yang selalu memanjakan siswanya.

Oleh sebabnya ku beri bocoran agar kuliahmu insya’Allah lancar. Jika kau ingin lulus kuliah tepat waktu dengan IP yang cukup memuaskan maka carilah teman sebanyak mungkin. Ber-organisasi-lah! Karena dengan ber-organisasi kamu akan bertemu banyak teman khususnya dengan kakak tingkat, yang mana kakak tingkat ini akan selalu membantumu dalam kesulitan tugasmu.

 Selain itu, kunci yang paling ampuh adalah bertemanlah dengan mahasiswa ber-beasiswa. Dimana kuliah mereka ini diberikan batasan waktu selama empat tahun, selebihnya maka biaya kuliah tidak ditanggung lagi oleh pihak beasiswa.
Mengapa harus berteman dengan anak beasiswa ?

Karena anak beasiswa semangat berpendidikannya sangat tinggi. Mereka selalu berusaha mendapatkan IP diatas 3.00 agar beasiswanya tidak dicabut, dengan begitu segiat mungkin mereka belajar untuk lulus tepat waktu sesuai jangka waktu yang diberikan oleh pihak beasiswa. Jadi diharapkan ketika bergaul dengan anak beasiswa maka semangat belajar mereka dapat menular pada kalian, sehingga kalian tidak membuang-buang waktu untuk mengulang semester dalam dunia perkuliahan.

BERIKAN UMPAN, JANGAN JAWABAN!

BERIKAN UMPAN, JANGAN JAWABAN!


Mengeluh. Adalah sikap alamiah yang dimiliki oleh setiap manusia sejak lahir. Namun baru bisa diungkapkan melalui ucapan saat umur tiga tahun. Contohnya anak tiga tahun yang sudah sangat lancar berbicara ketika dimandikan oleh sang Ibu, dia mengeluh kedinginan dan meminta untuk disudahi mandinya.

Anak usia tiga tahun mengeluhkan dinginnya air yang digunakannya untuk mandi, panasnya kuah sup yang ia makan. Lantas seberapa jauh level mengeluh anak seusia tingkat Sekolah Dasar ? Ya benar. Anak SD selalu mengeluh saat mengerjakan PR yang diberikan oleh gurunya. Kendati demikian, orang tua yang tidak dapat mengatur kesabarannya dalam mengajari PR tersebut pasti akan mencarikan jawaban kepada anaknya agar PR segera terselesaikan tanpa mendengar keluhan lagi.

Apakah hal tersebut benar adanya ? Sangat benar. Tidak sedikit dari orang tua menyuapi jawaban kepada anaknya. Apakah tindakan yang dilakukan orang tua tersebut sangat benar ? Tidak. Tindakan tersebut sangat fatal. Karena tidak membiasakan anak mandiri dengan pekerjaannya sendiri.

Mari sama-sama kita analisis! Apa penyebab anak mengeluh saat mengerjakan PR ? Tentunya anak tidak mampu memahami materi tersebut saat guru sedang menjelaskan dikelas. Andai saja anak memahami materi yang disampaikan, maka PR yang diberikan pun akan sangat mudah untuk dikerjakan.

 Lantas bagaimana sikap yang benar yang harus dilakukan orang tua saat anaknya mengeluh ? Mengajarinya dengan penuh kesabaran. Kesabaran yang bagaimana ? Posisikan diri layaknya guru, pahami materinya dan buatlah media pembelajaran sederhana yang mudah untuk dipahami sang anak. Berikan berbagai unpan pertanyaan yang merangsang jawaban anak untuk memahami materi tersebut. 

Dengan demikian anak merasa bangga atas dirinya karena dapat memahami materi, dan orang tua merasa senang karena telah berhasil membuat anaknya mencari jawaban sendiri tanpa harus diberitahu. Karena sejatinya anak yang sering diberitahu akan selalu mengandalkan seseorang yang memberitahu.

Anak akan selalu mengandalkan jawaban dari orang tua sehingga anak semakin mudah mengeluh dalam mengerjakan sesuatu. Terbayang apabila ujian sedang berlangsung, tidak ada seseorang yang dapat diandalkan untuk mendapatkan jawaban dari segala soal yang diberikan. 

Oleh sebabnya bagi para orang tua apabila mengajari PR anak dan anak mulai mengaluh, maka berikan umpan untuk merangsang jawaban muncul dari mulutnya, jangan beri tahu jawaban dari mulut anda!

JADILAH IBU DET*OL !

JADILAH IBU DET*OL !


Sering mendengar jargon ‘kisah Ibu Det*ol’ ?

Kisah seorang Ibu yang membiarkan anaknya bereksplorasi tanpa takut terkena kuman namun masih dengan pengawasannya. Ya... Apakah anda termasuk Ibu det*ol juga ? Yang membiarkan anaknya bermain liar diluaran bersama kuman ?

Pernahkah kalian mendengar pernyataan yang diajukan oleh Ibu kepada anaknya saat hendak masuk kedalam sekolahan ? Pernyataan tentang baju seragam yang dilarang untuk dikotori ? Biasanya tak jarang dari Ibu-ibu ini menyampaikan kepada anaknya bahwa, ‘Jangan sampe kotor ya seragamnya! Nanti susah dicuci’. Pernyataan semacam ini adalah kesalahan besar yang pernah dilakukan oleh orang tua. Secara tidak langsung orang tua mematahkan keinginan anak untuk bersosialisasi dengan teman-teman lain yang bermain dengan debu-debuan diluaran sana.

Sedangkan tempat sosialisasi terbesar anak hanya dapat ditemukan dalam lingkungan sekolah saja, yang mana saat jam istirahat anak-anak bermain bersama diluar kelas/lapangan karena memang terkadang guru melarang anak untuk bermain didalam kelas. Jadi asumsi anak saat orang tuanya mengatakan, ‘Jangan sampe kotor ya seragamnya! Nanti susah dicuci’ pilihan mereka antara diam saat jam istirahat melihat teman-teman lainnya bermain atau nekat bergabung namun masih tetap menjaga amanah dari orang tuanya.

Terbayang bukan bagaimana itu, ‘nekat bergabung namun masih tetap menjaga amanah dari orang tuanya’ ? Dimana anak tersebut tidak dapat mengumpat perasaannya bahwa ia ingin sekali dapat bermain bersama teman-temannya dan kemudian bergabung untuk bermain bersama namun ia bermain dengan ruang yang sangat terbatas, agar supaya seragamnya tidak kotor. Seperti halnya ia memberitahukan kepada teman-temannya saat hendak memulai permainan, ‘jangan dorong-dorong aku ya nanti kalau aku jatuh baju aku kotor’.

Selalu saja ada anak yang nakal dan jahil saat mendengar pernyataan demikian. Yang mana anak jahil ini akan berusaha untuk berpura-pura tidak sengaja menyenggol badan anak takut kotor ini hingga akhirnya terjatuh. Dan pada akhirnya akan menimbulkan per cek-cok an antara keduanya.

Masih mending kalau anaknya yang cek-cok, suatu saat juga pasti akan bermain bersama kembali. Namun apa jadinya kalau orang tuanya yang cek-cok, akibat dari kedua anak tadi saling melaporkan kejadian kepada orang tuanya dan sama-sama saling melakukan pembelaan atas dirinya. Terdengar lucu bukan, permusuhan yang terjadi pada orangtua tak kunjung reda padahal anaknya sudah bermain bersama kembali.

Oleh sebabnya sangat disarankan kepada para orang tua khususnya Ibu, jadilah orang tua seperti dalam istilah ‘Ibu det*ol’. Berikan kesempatan untuk anak anda menghabiskan masa kecilnya dengan kesenangan bermain bersama teman-temannya tanpa beban. Supaya jiwa sosial anak anda tertanam dengan baik melalui berbagai permainan yang melibatkan banyak orang tersebut. Entah dari bekerja sama antar tim, jiwa solidaritas, dan lain sebagainya.

WASPADA BERITA HOAX PADA ANAK

WASPADA BERITA HOAX KEPADA ANAK


Pola berpikir anak memang masih sangat sederhana. apapun yang ia lihat dan dengar akan sangat membekas jelas dalam ingatnnya. Ini disebabkan karena memang kapasitas memory anak masih belum terisi penuh, sehingga apapun yang dia lihat ataupun dengar sangat mudah untuk diingatnya atau masuk kedalam ingatan jangka panjang.

Tak jarang banyak orang tua cerdas yang memanfaatkan daya ingat saat anak masih di usia emas ini. Dimana  terkadang orang tua mulai memberikan stimulus kepada anak tentang pengetahuan ringan seperti menghafal angka, huruf, warna, dan lain sebagainya melalui lagu.

Dalam usia emas anak-anak sangat mudah dalam hal menyampaikan berbagai informasi yang ia ketahui, dan ia akan merasa sangat senang apabila informasi yang disampaikannya didengarkan dan diperhatikan banyak orang. Namun dibalik semua ini perlu adanya kewaspadaan dari para orang tua dalam mengasuhnya. 

Karena apapun yang diucapkan ataupun yang dilakukan oleh orang tua bisa saja ditirukan oleh anaknya dan diinformasikan kepada orang lain/teman-teman seusianya. Karenanya para orang tua harus berhati-hati dalam berucap dan berperilaku, sebab kunci kecerdasan anak terletak pada cara orang tua mendidiknya.

Apapun yang diucapkan dan dilakukan oleh orang tua selalu dianggap benar oleh anaknya. Maka dari itu orang tua wajib berhati-hati dalam menyampaikan informasi kepada anak. Jangan sampai salah menyampaikan sesuatu kepada anak, atau bahkan memberikan seputar informasi yang terdengar ambigu bagi anak.

Seperti contohnya yaitu, lagi-lagi soal anak yang tidak doyan makan. Sering kita mendengar orang tua berkata pada anaknya yang tidak mau menghabiskan makannya, ‘nanti kalau nggak habis nasinya nangis loh’ atau ‘nanti kalau nggak habis ayamnya mati loh’. Penjelasan semacam ini akan membuat anak merasa bingung.

Masih mending kalau sang anak mampu menyembunyikan kebingungannya. Bayangkan andai saja anak itu kemudian mengatakan hal tersebut kepada temannya dan menyebarluaskan berita hoax yang telah disampaikan orang tuanya ini. Orang tua lain yang memahami cara mendidik anak saat menerima berita hoax dari anak anda tersebut maka mereka akan mengklaim bahwa anda sangat bodoh dalam mendidik anak.

Maka dari itu sangat disarankan bagi orang tua untuk memberikan informasi yang benar kepada anak ketika dalam proses mendidik perkembangannya. Jangan sampai ketika besar nanti saat anak anda mengingat hal tersebut dirinya merasa dibodoh-bodohkan oleh orang tuanya sendiri karena menerima informasi yang salah.

Minggu, 09 September 2018

MENPOR NEGATIF YANG HARUS DIHILANGKAN

MENPOR NEGATIF YANG HARUS DIHILANGKAN


Laporan memang sangat penting. Tanpa adanya laporan maka seseorang tidak akan memperoleh informasi. Sama halnya dengan hubungan anak dan orangtua. Apabila anak tidak melapor kepada orang tua atas apa yang terjadi di sekolah maka orang tua tidak akan memperoleh informasi apapun atas kegiatannya di sekolah. Apabila sudah terjadi demikian maka jalan lain adalah orang tua yang menanyakan laporan tersebut kepada anaknya atas apa yang telah terjadi di sekolahannya.

Melalui laporan ini hubungan anak dengan orang tua akan semakin dekat, namun harus diperhatikan saat mengajari anak untuk melaporkan sesuatu. Laporan yang baik harus mengandung laporan positif bukan laporan negatif.

Laporan positif dan negatif itu seperti apa ?
Laporan positif itu seperti melaporkan hasil belajar dikelas, sedangkan laporan negatif itu seperti laporan atas pergaulan anak di sekolah yang sedang bertengkar dengan temannya dan saling berargumen mencari celah pembelaan diri.

Maka untuk para orang  tua harus cerdas memposisikan diri atas laporan atau curhatan anaknya. Apabila anak melapor karena telah melakukan pertengkaran disekolah maka sebagai orang tua jangan langsung mengklaim bahwa anaknya benar.

Orang tua harus terus menginterogasi sang anak untuk mendapatkan seluruh kronologis kejadiannya. Baru selanjutnya memberikan pandangan serta solusi kepada anaknya siapa yang bersalah dan berhak meminta maaf. Karena jika hanya mendengarkan sedikit penjelasan dari anak anda maka bisa jadi sang anak memberikan laporan yang tidak sebenarnya dan mencari celah untuk melakukan pembelaan kebenaran atas dirinya. Sejatinya anak seusia SD sudah sangat pintar memutar balikkan fakta.

Dengan tidak mengklaim bahwa anak anda-lah yang paling benar maka ini akan memberikan pengertian pada anak bahwa ‘tidak selamanya orang tua akan selalu membela anaknya’. Dari tindakan interogasi yang dilakukan orang tua untuk mengetahui kronologi secara pasti ini sama hal nya mengajarkan kepada anak bahwa menyampaikan sesuatu itu memang harus lengkap.

Selain itu hal ini juga dapat membentuk diri anak agar tidak terlalu memiliki mental pelapor (menpor), yang mana sedikit-sedikit melapor pada orang tua. Dengan demikian apabila suatu saat sang anak memiliki masalah maka ia akan berusaha menyelesaikannya sendiri.

HINDARI HAL-HAL BERBAU 'SALAH KAPRAH' DALAM MENDIDIK MENTAL ANAK

HINDARI HAL-HAL BERBAU SALAH KAPRAH DALAM MENDIDIK MENTAL ANAK


Rasa takut akan menciptakan traumatik tersendiri bagi setiap orang. Sejatinya rasa takut tidak untuk dipelihara tapi untuk dilawan. Namun kebanyakan orang justru gembira melihat orang lain yang mempunyai ketakutan terhadap sesuatu. Mereka justru menjahili seseorang tersebut dengan sesuatu yang ditakutinya. Ini sangat fatal.

Menakut-nakuti sesuatu sering terjadi pada usia anak/remaja kepada teman sebayanya. Namun apa jadinya bila tindakan menakut-nakuti ini dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya ? Apakah hal semacam ini merupakan didikan yang baik ?

Kesalahan mendidik yang dilakukan orang tua tidak hanya soal perbedaan porsi kasih sayang seperti pada postingan sebelumnya. Di postingan kali ini saya akan mengungkapkan kesalahan orang tua saat mendidik anak dalam hal menakut-nakuti sang anak. Tak jarang tiap orang selalu mendidik anak dengan menakut-nakuti. Seperti halnya menakut-nakuti anak saat tidak mau makan. ‘Nanti kalau tidak makan sakit loh, kalau sakit dibawa ke pak dokter lalu disuntik dengan jarum’. Dengan begitu anak kemudian mau makan sesuap demi sesuap dengan terpaksa lantaran ditakut-takuti.

Tindakan melalui contoh diatas  sangat salah, jangan senang kalau anak anda doyan makan lantaran ada sebab ditakut-takuti, bisa jadi anak benar-benar takut karena membayangkan hal yang tidak-tidak. Bisa jadi suatu saat ketika anak anda sakit dan mengharuskan untuk dibawa ke dokter untuk disuntik maka anak akan lebih ketakutan karena pengalamannya yang pernah ditakut-takuti oleh orang tuanya.

Jadi untuk para orang tua jangan pernah sekali-kali memaksakan anak menghabiskan makan atau mengharuskan anak melakukan hal lain dengan memberikan motivasi atas rasa takut yang diberikan, karena ini akan menanamkan mental penakut dalam diri sang anak. Dari hal sepele semacam itu dapat berkelanjutan seperti contohnya ketika anak sudah remaja dan bercita-cita menjadi dokter namun terhalang oleh rasa takutnya.

Maka bagi orang tua sangat penting untuk mengetahui cara mendidik anak dengan baik, agar tidak salah kaprah dalam membentuk mental anak. Anak sehat karena makan banyak tapi psikisnya mlempem bagai kerupuk, kan jadinya tidak seimbang.

MEMINIMALISIR KATA 'JANGAN' PADA USIA PERKEMBANGAN ANAK

MEMINIMALISIR KATA ‘JANGAN’ PADA USIA PERKEMBANGAN ANAK


Sejatinya pendidikan itu tidak melulu tentang bangku sekolah ataupun perkuliahan. Namun kebanyakan orang awam mengatakan bahwa belajar hanya bisa dilakukan dalam bangku sekolah maupun bangku perkuliahan saja, karena menurut sepengetahuan mereka dalam kegiatan belajar mengajar itu harus terdapat pendidik dan peserta didik, sedangkan kedua komponen tersebut hanya berlaku di pendidikan formal ataupun non formal saja. 

Padahal untuk pendidikan sendiri digolongkan dalam 3 jenis diantaranya, pendidikan formal, pendidikan non formal, dan pendidikan informal. Dimana pendidikan formal dan non formal ini terdapat lakon guru serta siswa, sedangkan informal sendiri adalah pendidikan yang ilmunya tak sengaja didapatkan oleh setiap manusia di sepanjang harinya.

Contoh pendidikan informal dapat dilihat dari kejadian anak berusia 2 tahun berikut. Seorang anak berusia dua tahun sudah mulai berjalan lancar dan mampu memanfaatkan seluruh anggota tubuhnya untuk menjelajah sesuatu. Seperti halnya memainkan jarinya untuk mengutak-atik kran air pada dispenser. Akan ada saatnya dimana suatu saat nanti saat anak ini bermain dispenser tak sengaja menekan kran air panas dan air panas mengalir pada tangannya sehingga membuat ia menjerit kepanasan. Dari kejadian tersebut sudah dipastikan sang anak tidak akan lagi berdekatan dengan dispenser karena pengalaman buruknya teraliri air panas. 

Tanpa panduan dari orang disekitar, anak ini dapat mengetahui sendiri secara pasti bahwa dispenser sangat berbahaya untuknya. Inilah yang dinamakan dengan pendidikan informal, satu orang dapat berperan sebagai lakon guru serta murid. Karena pengalamannya tersebut maka dia memerintahkan kepada dirinya sendiri untuk tidak lagi bermain dispenser, dan dirinya mematuhi hal tersebut.

Oleh sebabnya ketika anak sedang dalam masa pertumbuhan, orangtua jangan pernah melarang si anak ketika sedang menjelajah sesuatu, biarkan dia menemukan ilmu pendidikan informal dari pengalamannya sendiri. Karena apabila orangtua terlalu banyak melarang anaknya atau terlalu sering mengatakan ‘jangan’ saat anak sedang  menjelajah sesuatu maka itu akan membentuk mental anak menjadi mental yang tidak percaya diri.

PENTINGNYA MEMAHAMI ILMU CARA MENDIDIK ANAK

PENTINGNYA MEMAHAMI ILMU CARA MENDIDIK ANAK


Anak adalah titipan dari Allah SWT yang harus diberikan kasih sayang serta bimbingan berdasarkan aturan agama. Pada dasarnya semua anak memiliki porsi yang sama dalam menerima kasih sayang dari orang tuanya. Tidak ada perbedaan dalam hal ini, karena apabila kasih sayang yang diberikan pada setiap anak berbeda porsinya maka akan menimbulkan rasa iri pada anak. Namun terkadang hal ini disepelekan oleh orang tua. Banyak dari mereka yang sudah memiliki anak lebih dari satu namun tidak pernah memperhatikan porsi kasih sayang.

Seperti contohnya tetangga saya yang memiliki dua anak, dimana kedua anaknya ini hanya berselisih 4 tahun. Saat ini kakaknya baru berusia 6 tahun dan adiknya berusia 2 tahun. Hari-hari selalu terdengar teriakan antar Ibu pada kedua anak ini karena keduanya tidak ada yang mau saling mengalah. Mereka saling berebut mainan, saling berebut untuk disupkan makanan, saling berebut untuk dimandikan. Sangat lah repot. Kadang kala terdengar teriakan ibunya yang memarahi anak pertamanya, bahwa sebagai kakak haruslah bersikap mengalah dengan adiknya.

Selain itu juga yang menjadi penyebab munculnya kembali teriakan-teriakan tersebut adalah ketika sang Ibu meminta anak pertamanya untuk menuruti apa kemauan adiknya. Contohnya, ketika Ibu sedang memasak dan adik menangis karena mainan kesayangannya hilang. Kemudian dengan segan Ibu menyuruh anak pertamanya untuk mencarikan mainan tersebut dengan nada tinggi.

Dari contoh kejadian diatas dapat kita ketahui bahwa secara tidak langsung Ibu tersebut tidak memberikan porsi yang berbeda dalam membagi kasih sayang kepada kedua anaknya. Dibuktikan dari cara dia mendidik dengan menimpalkan teriakan  kepada anak pertama untuk mengalah kepada adiknya selain itu juga memerintah anak pertamanya untuk menuruti apa yang diinginkan adiknya.

Sedangkan, pengelompokan dalam hal memperlakukan anak menurut Ali Bin Abi Thalib dibagi menjadi 3, diantaranya:

1. Anak diperlakukan sebagai raja (usia 0-7tahun)
2. Anak diperlakukan sebagai pelayan (usia 7-14tahun)
3. Anak diperlakukan sebagai sahabat (usia 14-21tahun)

Berdasarkan pengelompokan perlakuan anak menurut Ali bin Abi Thalib, layak-kah untuk di salahkan perlakuan Ibu tersebut kepada kedua anaknya, khususnya pada anak pertamanya yang masih berusia 6 tahun ?

Sangat layak saya rasa. Mengutip dari apa yang disampaikan oleh Ali Bin Abi Thalib bahwa anak usia 0-7 tahun harus diperlakukan layaknya raja. Apapun yang mereka mau harus kita biarkan namun masih dalam pengawasan kita. Dari cerita tersebut sudah sangat jelas bahwa Ibu tersebut melakukan kesalahan fatal, karena salah memberikan perlakuan kepada anak pertamanya. Anak berusia 6 tahun sudah diperintah-perintahkan untuk mengalah serta menuruti apa kemauan adiknya dengan nada tinggi.

Jelas saja hal itu akan menyakiti hati anak pertamanya. Anak ini akan merasa bahwa Ibunya telah pilih kasih lantaran dirinya diperlakukan lain dengan adiknya. Perbedaan kasih sayang ini akan mengakibatkan psikis anak terganggu. Oleh sebabnya bagi para Ibu yang memiliki anak dimana selisih umurnya tidak terlampau jauh, memahami ilmu dalam mendidik anak itu sangat diperlukan. Jangan sampai anak menjadi korban kasih sayang atas didikan orang tuanya sendiri. Perlakukan anak-anak kalian dengan sama jangan dibeda-bedakan. Untuk kasus perebutan mainan solusi terbaik ada pada orangtua. Seharusnya orangtua membelikan 2 macam mainan yang sama agar mereka tidak saling berebut.



SEBERAPA PENTING PENDIDIKAN DALAM KANDUNGAN ?

SEBERAPA PENTINGNYA PENDIDIKAN DALAM KANDUNGAN ?


Kehamilan memanglah suatu hal yang sangat ditunggu-tunggu oleh para pasangan kekasih yang sudah lama menikah. Tenggang waktu hamil setiap pasangan memang berbeda-beda. Ada yang setelah menikah langsung dikaruniai anak, ada pula yang setelah menikah berjalan lama namun belum dikaruniai anak.

Maka tak jarang, banyak pasangan yang setelah mengetahui kehamilan pertamanya sangatlah protektif dalam menjaga kehamilan tersebut. Boleh-boleh saja protektif demi keselamatan si janin, namun jangan terlalu berlebihan. Karena setiap umur janin dalam kandungan selalu memiliki perhatian yang berbeda, oleh sebabnya jangan melulu soal protektif saja  yang diberikan melainkan pendidikan kandungan sesuai dengan perkembangan  janin juga harus terus diperhatikan.

Lalu apa saja perhatian khusus yang harus dilakukan oleh sepasang kekasih terhadap janin dalam kandungannya ?

Salah satu perhatian khusus yang paling penting dari yang terpenting lainnya adalah pendidikan dalam kandungan. Pendapat beberapa ahli mengenai pendidikan dalam kandungan ini bisa dimulai sejak bayi berusia 8 minggu / 2 bulan. Jadi untuk para ibu hamil yang kandungannya sedang/lewat berusia dua bulan harap segera sadar untuk melakukan pendidikan khusus ini, karena pada usia ini janin sudah dapat dilatih untuk berinteraksi bersama sang ibu melalui pembicaraan-pembicaraan ringan.

Pendidikan dalam kandungan ini sangat penting karena dapat memengaruhi kecerdasan anak ketika lahir nanti. Apabila semasa hamil sang ibu selalu melakukan kegiatan yang bermanfaat mengasah otak maka hal itu akan berpengaruh pada anak setelah lahir dan tumbuh dewasa. Perlakuan positif ini justru bertolak belakang dengan para ibu hamil yang hanya bermalas-malasan ketika mengandung, maka saat lahir pun tidak salah apabila anaknya memiliki sifat malas.

Maka peran kedua orangtua atau sepasang kekasih ini sangat dibutuhkan untuk perkembangan janin dalam kandungan. Contohnya seperti perhatian suami terhadap isterinya yang sedang mengandung. Bayangkan saja apabila semasa hamil, suami selalu membawa aura negatif saat berdekatan dengan sang isteri sehingga menimbulkan emosi pada keduanya, maka hal ini akan sangat mempengaruhi perkembangan janin. Karena semasa usia 2 bulan janin sudah mulai mendengarkan suara-suara dari luar perut ibundanya. Sehingga ketika emosi tak terkendali dan sang janin mendengarkan semua amarah orangtua-nya maka bisa jadi tindakan itu akan berimbas pada tindakan anak saat tumbuh kembangnya.

Saya sendiri juga sering menyimak berbagai pengakuan orang tua dalam acara TV hafidz, mereka mengungkapkan bahwa anak-anak mereka yang masih berusia 5tahun telah sukses  menghafal Al-Qur’an sebanyak lebih dari 10 juz dikarenakan sejak dalam kandungan sang ibu giat melantunkan ayat suci serta mendengarkan murottal. Oleh sebabnya setelah lahir, apabila sang Ibu mengajarkan bacaan Qur’an maka anak akan dengan cepat memahami apa yang diajarkan Ibunya, lantaran sejak dalam kandungan dirinya telah terbiasa mendengarkan lantunan Al-Qur’an yang dibacakan oleh Ibunya. 



Oleh sebabnya sangatlah penting bagi seluruh pasang kekasih dalam memahami pendidikan kandungan ini, agar generasi Indonesia selanjutnya menjadi bibit-bibit unggul yang Insha’Allah dapat membanggakan Indonesia. Aamiin